MAJALENGKA – Intensitas bencana alam di Kabupaten Majalengka menunjukkan tren mengkhawatirkan. Hingga awal November 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Majalengka mencatat sebanyak 195 kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah kecamatan. Fenomena ini didominasi oleh peristiwa tanah longsor dan banjir.
Kepala Pelaksana BPBD Majalengka, Agus Tamim, menjelaskan bahwa kondisi geografis Majalengka yang beragam membuat tingkat kerawanan bencana cukup tinggi. Hampir seluruh kecamatan tercatat pernah mengalami kejadian bencana, dengan pola berbeda sesuai karakter wilayah.
Wilayah selatan Majalengka seperti Cingambul, Lemahsugih, Bantarujeg, Cikijing, Malausma, dan Talaga dikenal sebagai daerah rawan longsor, khususnya saat curah hujan tinggi. Sementara wilayah utara seperti Ligung, Jatitujuh, Kertajati, Jatiwangi, Kasokandel, dan Dawuan lebih sering terdampak banjir.
Fokus Mitigasi BPBD
Untuk meminimalisir risiko, BPBD Majalengka terus memperkuat langkah antisipasi, di antaranya:
- Melakukan pemetaan titik rawan bencana
- Mendirikan posko siaga serta memperkuat koordinasi dengan desa dan kecamatan
- Melakukan edukasi dan sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat
Agus juga mengimbau masyarakat agar lebih peduli dan waspada terhadap lingkungan sekitar, terutama di wilayah rawan. Masyarakat diminta menghindari penebangan pohon sembarangan dan tidak membuang sampah ke sungai agar risiko bencana tidak semakin meningkat.
“Jika ada tanda-tanda tanah bergerak atau air sungai meluap, segera laporkan kepada pihak terkait. Kewaspadaan masyarakat sangat penting,” tegasnya.
Status Siaga di Puncak Musim Hujan
Angka 195 kejadian bencana hingga awal November menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah menjelang puncak musim hujan. BPBD terus memonitor perkembangan cuaca dan kondisi lapangan, sekaligus menyiapkan langkah cepat apabila terjadi keadaan darurat.


Komentar